Cara Mudah Untuk Lepas Dari Perangkap Post-Truth

Oleh Mansurni Abadi, Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPID).

 

Kuala Lumpur, 20 Oktober 2020 | MANSURNI ABADI adalah mahasiswa jurusan kajian etnik Universiti Kebangsaan Malaysia dan ahli pengerusi bidang aksi sosial Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPID). Artikel ini ditulis sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia.

 

Mencuatnya film dokumenter berjudul “The Social Dilemma” yang bercerita tentang sisi lain dari produk yang diciptakan oleh perusahaan teknologi, sedikit banyak membuka mata kita semua tentang sisi lain dari produk yang selama ini memberikan kita kemudahan.

Sumber: Wikipedia

Di dalam dokumenter itu beberapa ahli perusahaan teknologi yang memiliki kedudukan tinggi dapat ditemui dengan ramah. Mereka semua mengisahkan jika apa yang mereka buat telah memperdaya banyak manusia dalam kecanduan teknologi yang teramat sangat.

Salah satu bukti yang paling memprihatinkan dari dokumenter ini ialah banyaknya perusahaan teknologi yang lebih banyak mengutamakan keuntungan  lalu mengesampingkan kesehatan para penggunanya.

Ada satu kutipan yang saya sukai dari film ini “If you are not paying anything for a platform or a service, it means YOU ARE THE PRODUCT “ tentu saja dengan cara mengambil alih waktu dan perhatian kita membuat persepsi kita pun berubah.

Sejak mencuatnya dokumenter ini, maraknya pro dan kontra terhadap peraturan teknologi mulai merebak, tapi di sini saya tidak ingin menilai apakah peraturan teknologi itu memberikan dampak negatif atau positif dikarenakan hal tersebut tergantung bagaimana kita menyikapinya, menilik kutipan dari Yuval Noah Harari dalam bukunya 21 Lesson for the 21st Century menyebut, “Technology isn’t bad, if you know what you want in life , technology can help you get it, but if you don’t know what you want in life, it will be all too easy for technology to shape your aims for you and take control of your life”.

 

Media sosial dalam Jebakan Dilema

Dengan demikian, dunia media sosial sebagai salah satu produk kemajuan teknologi yang digunakan hampir sebagian besar umat manusia sebagai wadah alternatif pembentukan ruang-ruang publik,  pada kenyataannya juga tidak lepas dari fenomena ini.

Disamping nilai positifnya, kita tidak dapat menafikan jika ada sisi negatif yang sering kali lebih besar dampaknya dari pada sisi positif itu sendiri. Hal ini sangat berkaitan dengan upaya untuk menghancurkan kesatuan dan persatuan dalam masyarakat.

Sumber: The Financial Times

Post-truth sebagai Jebakan Baru

Ihwal keterjebakan kita akan dilema ini mengingatkan saya dengan fenomena yang disebut melalui istilah post-truth yang pertama kali dikenalkan oleh penulis Steve Tesich dalam bukunya pada The Nation sebagai gaya politik baru yang menggerakkan kepercayaan orang banyak dilatarbelakangi oleh emosinya tanpa merujuk fakta sebenarnya.  Biasanya, kondisi post-truth melibatkan suatu keadaan dimana fakta kurang berperan untuk menggerakkan kepercayaan umum daripada sesuatu yang berhubungan dengan emosi dan kebanggaan tertentu.

Post-truth atau pasca-kebenaran sebenarnya terjadi akibat pengumpulan yang begitu masif oleh kita terhadap pengetahuan yang sering kali tidak diimbangi dengan tindakan untuk berpikir sehingga pelbagai hal yang kita ketahui saat ini,  disisi lain juga pelbagai hal atas persoalan tersebut tidak kita ketahui dengan pasti.

Perangkat digital terhadap informasi tsunami memaksa kita untuk senantiasa  ingin mengetahui pelbagai hal namun ironisnya kita terjebak pada kondisi pengetahuan  yang terbatas  tentang pelbagai perkara.

Oleh karena itu menjadi semakin sukar bagi siapapun untuk mengetahui tentang sesuatu yang ia ketahui atau yang ia bicarakan ataupun tidak. Dan ketika kita tidak mengetahui, atau ketika kita tidak cukup tahu, kita cenderung selalu menggunakan emosi daripada pemikiran.

Hal ini menjadi wajar karena sebelum lahirnya media sosial, jumlah orang yang mengambil keputusan berdasarkan situasi yang berlaku atau sedang terjadi atau tidak berlaku sangat minim dan biasanya mereka akan berkomitmen terhadap prinsip media-massa, kritikan masyarakat-umum, juga sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya.

Pada masa itu biasanya penyebaran informasi ada ditangan orang-orang yang kebanyakan mengetahui apa yang mereka lakukan, akan tetapi tidak pada era media sosial, namun kini setiap orang awam bisa membuat versi informasinya masing-masing dan kemudian menyebarkannya pada khalayak luas.

Dalam kes Covid-19 contohnya, kita dibuat seolah-olah mengetahui berbagai hal tentang Covid-19 ini tanpa sedikit pun menelusuri ataupun mempertimbangkan fakta yang sebenarnya. Walhasil, tidak sedikit orang yang kemudian menjadi fanatik disebabkan merasa dirinya paling benar dan paling mengetahui utamanya persoalan penanganan dalam penanggulangan Covid-19 yang kemudian memunculkan berbagai macam isu khususnya yang bersifat sara atau rasial.

 

Strategi Jitu Lepas dari Jebakan Post-truth

Lepas dari jebakan atau jerat post-truth memanglah tidak mudah namun bukan berarti itu sesuatu yang mustahil, hal pertama yang perlu kita lakukan contohnya pada saat waktu tsunami informasi, adanya berbagai informasi merupakan cara kita untuk menguatkan kesadaran kita guna menyaring seluruh informasi yang kita dapatkan pada perangkat seluler atau gawai yang kita miliki sehingga kita mampu berpikir lebih logis akan hal tersebut.

Sumber: istockphoto.com

Berbicara tentang berpikir logis terdapat metode menarik menurut Socrates yang disebut “dialektika logika”, yaitu kaidah analisis silogistik terhadap pendapat melalui aktivitas tanya jawab dengan tujuan mencari pengetahuan, pemahaman dan kesadaran baru mengenai pendapat itu dari si pemberi pendapat atau informasi .

Dalam bahasa Yunani, dialektik logika dikenal sebagai “elenchus”, yang secara harfiah bermaksud penolakan. Sebenarnya, dialektika logika ini digunakan sebagai cara untuk menolak pendapat. Tetapi ini berbeda dengan berdebat atau berdebat secara umum.

Pada dialektika logika, seorang yang logis hanya menanyakan soalan, melakukan analisis logika, memeriksa kontradiksi, dan apabila mendapati pertentangan maka tanya jawab akan kembali ditujukan kepada si pemberi informasi. Jadi, jika ada penolakan, maka penolakan itu dilakukan oleh si pembicara itu sendiri. Pada prinsipnya, kaidah  ini  berdasarkan dua perkara:

1) Kebenaran dijumpai di setiap orang, jadi tidak perlu diajar lagi, melainkan dibantu agar kebenaran itu diungkapkan.

2) Jika seseorang mempunyai kepercayaan yang salah, maka pasti kepercayaannya akan bertentangan dengan dirinya sendiri.

Setelah berlogika, cara lain yang harus kita lakukan adalah mengetahui tiga kondisi penting zaman post-truth. Pertama, simulakra. Situasi dimana batas-batas antara kebenaran dan kepalsuan, realitas dan rekaan, fakta dan opini semakin kabur dan sulit untuk diidentifikasi. Realitas yang ada adalah realitas yang semu dan realitas hasil simulasi (hyper-reality) contohnya teori konspirasi tentang Covid-19 yang terlihat rumit dan meyakinkan namun jika dikaji kembali sangat lemah basis akademisnya.

Yang Kedua, pseudo-event. Keadaan dimana sesuatu yang dibuat dan diadakan untuk membentuk citra dan opini publik, padahal itu bukan realitas sesungguhnya. Dalam istilah politik praktis di Indonesia  disebut sebagai tindakan pencitraan. Contohnya “Covid-19 adalah virus Cina”, maka kita patut mempertanyakan seberapa benarnya suatu virus yang tak mengenal kaum bisa melekat pada suatu kaum atau ini hanya permainan politik agar rasisme terhadap etnis Cina meningkat?

Dan Ketiga, pseudosophy. Adalah upaya menghasilkan suatu ‘realitas’ sosial, politik dan budaya yang sekilas tampak nyata, padahal sebenarnya adalah palsu. Masyarakat lalu dikondisikan untuk lebih percaya pada ilusi yang dihasilkan daripada realitas yang sesungguhnya. Contohnya saja isu Melayu terancam, kita patut mempertanyakannya dengan dialektika logika seberapa terancamkah Melayu di negeri yang masih memberikan banyak keistimewaan terhadap Melayu?

 

Tulisan ini adalah sebahagian daripada kempen #Kebersamaan atau #Togetherness oleh Komuniti Muslim Universal (KMU) bertujuan untuk membawa wacana progresif mengenai hubungan antara kaum dan agama di Malaysia.